Keutamaan Membangun Masjid

Senin, 11 Desember 2017

SAHABAT SEJATIKU


SAHABAT SEJATIKU
Karya : Habib Sholeh

Hampir setiap pagi Kakek mengantarkanku ke sekolah dengan berjalan kaki. Kakek selalu bercerita di sepanjang jalan. Sekolahku tidak terlalu jauh dari rumah. Hanya sekitar lima ratus meter. Kakek selalu berpesan sebelum aku masuk kelas “ Ojo nakal yo le ! ngih kek ! jawabku. “ lalu aku belajar bersama teman-teman. Aku sering bercerita kepada teman-temanku dikelas tentang kakekku yang selalu bercerita kepadaku saat mengantarku kesekolah dan teman-temanku selalu bertanya padaku “ Tadi kakekmu bercerita apa ? ceritakan pada kami, pinta teman-temanku.

Kakekku orangnya baik, sabar dan selalu mengajariku sholat di mushola setiap sore. Aku tinggal bersama kakek dan nenek sementara orang tuaku tinggal di Jakarta karena pekerjaanya. Mereka selalu mengirimkan uang untuk ku setiap bulan. Kata kekak, kita harus hemat dalam hidup ini biar nanti bisa sekolah yang tinggi, biar jadi orang yang pintar dan kaya. Sisa uang belanja nenek selalu dibelikan ayam karena kakek hobinya memelihara ayam. Pagi-pagi sebelum berangkat kesekolah kakek selalu memberi makan ayam. Kadang saya juga membantu tapi suka dak tahan sama bau eeknya.
Nenekku juga baik dan sabar, Setiap pagi selalu memasak makanan kesukaanku yaitu ayam goreng. Setiap mau tidur selalu membuatkanku segelas susu sambil bilang “ iki susune, dientekne yo!” ngih nek ! maksudnya ini susunya dihabisinya ! Nenek mengajarkanku menghafal surat-surat pendek sebelum tidur lalu bercerita sampai aku tertidur. Kakek tidurnya selalu malam, kadang-kadang tidur diluar sambil menjaga ayam-ayamnya.
Kakek memiliki banyak sekali ayam kampung, kurang lebih sekitar 25 ekor. Kakek juga punya beberapa ayam jago kesayangan yang setiap hari minggu sore diikutkan kompetisi sabung ayam dikampung sebelah. Kakek lebih sering menang dalam setiap kompetisi tapi pernah juga kalah. Kalau kakek kalah, ia kesal sama ayam tersebut dan berjanji setiap ayam aduanya yang kalah akan dipotong lalu digoreng.
Anak selalu identik dengan bermain, begitupun juga aku. Waktu itu aku baru berusia enam tahun. Bersama teman-teman di kampungku aku bermain berlarian dipematang sawah sambil mencari rumput untuk memberi makan kambing. Dan aku punya seorang sahabat bernama ahmad, orangnya baik sekali, dia berjanji akan memberiku kambing bila rajin menemaniku mencari rumput. Kambing orang tuanya banyak sekali aku selalu bermain dengan anak-anak kambing setiap sepulang sekolah.
“ Syahid, ayo temeni aku mencari rumput. Nanti aku bilang lagi sama ayahku agar memberikan satu kambing untukmu “ kata Ahmad.
“ Benarkah ahmad ? “ tanyaku.
“ Iya benar. Ayahku berjanji akan menberikanmu seekor anak kambing kalau kamu mau menemaniku mencari rumput .” Kata ahmad.

Aku semakin lebih sering main kerumah Ahmad untuk membantu mencari rumput. Satu bulan kemudian, waktu aku sedang dirumah ahmad dan bermain bersama anak-anak kambing, ayahnya ahmad menghampiriku.
“ Syahid, sekarang kamu pilih satu ekor anak kambing yang paling kamu sukai !” kata ayah ahmad. Aku tertegun dan tak percaya.
“ Ayo Syahid, pilih mana yang kamu sukai.” Sahut Ahmad. Selama ini kamu sudah banyak menemaniku, ambil satu dan bawa pulang “. Tambah Ahmad.
Aku masih terdiam, tiba-tiba ada seekor anak kambing menghampiriku sambil berkata “ mbeekkk”. Seakan isyarat agar aku memilihnya. Akupun berkata 
“ Bpk Ahmad dan Ahmad, Bolehkah aku memilih yang ini “ sambil aku menatap dan memegang anak kambing yang berwarna putih itu. 
“Iya boleh, sekarang kambing ini menjadi milikmu dan kamu boleh bawa pulang. Kata Bpk Ahmad. Lalu akupun pulang sambil menuntun dan sesekali menggendong kambing itu, karena rumahku tidak jauh dari rumah Ahmad.

Sesampainya dirumah, kakek dan nenekku tidak menyetujuiku untuk memeliharanya, Padahal aku sangat menginginkannya. Akupun sedih dan terus menangis agar diizinkan untuk memelihara kambing itu. Karena kasihan, akhirnya kakek dan nenekku mengizinkanku untuk memelihara kambing tersebut bahkan membuatkan kandang atau rumah untuk kambing itu. Aku sangat bahagia.
Setiap hari sepulang sekolah bersama Ahmad aku pergi ke sawah mencari rumput untuk makan kambingku. Sementara orang tuaku sibuk berkerja dikota. Kadang enam bulan sekali menjengukku kadang juga setahun sekali. Aku sering memberi kabar kepada orangku tapi mereka selalu bilang belum boleh cuti. Bahkan suatu hari aku menelfonya.
“Ma, minggu depan adalah ulang tahunku, mama dan papa bisakah untuk kerumah kakek menjengukku ? harapku.
“ Maaf ya dek, papa dan mama belum libur. Nanti kalau papa dan mama libur, pasti mama dan papa datang kerumah nenek untuk menjengukmu. Sabar ya sayang, nanti mama kirim hadiah, maunya apa coba ? “ Begitulah jawab papa dan mamaku, seakan mereka tidak memperdulikanku. Tapi aku selalu senang karena ada kakek dan nenek. Apalagi aku sekarang punya sahabat yaitu kambing kesayanganku.

Ketika aku memberi makan kambingku, ia terlihat sangat senang dan bersemangat, akupun juga ikut senang. Bahkan aku sering mengajak kambingku berbicara. “Kambing, makan yang banyak biar cepat besar seperti aku.
Aku mulai terbiasa dan tidak lagi merasa kangen yang menggebu pada orang tuaku. Aku justru bahagia tinggal dikampung bersama kakek dan nenekku. Walaupun setiap bulan mereka selalu mengirimkanku uang untuk biaya sekolahku. Aku hanya bisa berdoa “ Yaa Allah, semoga orang tuaku bisa menjengukku kemari walaupun hanya sehari.. Amin.
Kini usiaku sudah delapan tahun dan kambingku berusia dua tahun. Kambingku sudah semakin besar dan terlihat gagah, aku bangga punya kambing sendiri. Suatu hari nanti aku ingin menjual kambingku untuk menjenguk orang tuaku dikota. Mungkin juga untuk melihat keramaian kota metropolitan.
Aku semakin kasihan kepada kakekku karena sudah terlihat semakin tua dan sakit-sakitan. Nenekku yang juga sudah tua harus merawat kakek yang lagi sakit.
“ kek, sudahlah. Jangan merokok lagi nanti batuk kakek semakin parah. “ nasehat nenek. 
Tapi kakek sudah seperti orang yang kecanduan rokok. Malah apabila tidak merokok dia terlihat sedih dan hampa. Pikirku ! Kasihan nenek...! Ia harus merawat kakek dan juga harus merawat ayam-ayamnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Nenek kadang harus pergi ke pasar membawa satu dua ekor ayam untuk dijual atau ditukar dengan kebutuhan sehari-hari.

Ditengah malam sunyi, terdengar lirih tangisan. Suara itu sangat menyayatku. Ternyata nenek sedang menangis. Akupun menghampiri nenek dan bertanya “ Nek ada apa ? Kenapa nenek menangis? Tanyaku polos. Nenek semakin menangis dan sambil terisak-isak memelukku sambil membisikkan kata“ kakek cu.. Kenapa kakek nek tanyaku. Ka.. kek..mu.. telah pergi. Spontan aku menangis histeris sehingga terdengar oleh tetangga-tetanggaku yang akhirnya pada datang kerumah nenek.
Semua warga datang dan mencoba untuk menenangkanku dan juga nenek. Terlihat dihadapanku sahabatku ahmad, datang memelukku dan berkata “sabar Syahid masih ada aku sahabatmu yang akan menemanimu.” Akupun merasa sedikit tenang, lelah dan terasa kantuk sehingga aku tertidur lagi.
Keesokan harinya setelah aku terbangun nenekkupun menghampiriku dan berkata “ Ayah dan Ibumu akan segera datang.” “ Iya nek “ Jawabku. 
Terlihat olehku banyak orang-orang yang sedang mengurus jenazah kakekku lalu aku datang dan berdoa “ Yaa Allah. Ampunilah dosa-dosa kakekku, terimalah amal kebaikannya dan Berilah ketabahan kepada nenek.

Akupun teringat dengan kambingku dihalaman belakang. Ingin sekali aku melihatnya namun aku melihat beberapa orang berkerumun. Akupun mendekat setelah terlihat olehku betapa terperanjatnya aku, Mereka memotong kambing kesayanganku. Akupun kembali menangis histeris sambil teriak.. “Kambingku... Kambingku jangan dipotong. Gara-gara kakekku meninggal, kambingku ikut meninggal juga, kambingku !! “ akhirnya akupun tak sadarkan diri.
Terdengar suara lirih di telingaku, “ Syahid... Syahid.. sadarlah..! ini aku sahabatmu, tenang nanti aku akan mengganti kambingmu yang baru.” 
Perlahan akupun tersadar, ternyata itu suara sahabatku Ahmad. Dialah yang selalu ada saat aku terluka. Dialah sahabat sejatiku. “ Ahmad Sahabatku “ isyaku sambil memeluknya. Tak lama kemudian ayah dan ibuku datang lalu memelukku.

berlanjut......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar